5/24/2010

Marilah Kita Menangis





Jika ramai manusia suka menonton rancangan hiburan, maka saya cenderung menonton rancangan tangisan. Bersamamu adalah antara favourite saya sejak dahulu lagi. Walaupun bukan setiap minggu saya menontonnya, namun di kala ada kesempatan saya tidak persiakan.

Bukan apa, paparan yang disiarkan mampu menjelmakan keinsafan dalam benak kita yang sekian lama terhidang dengan gelak tawa yang kadangkala melalaikan.

Mereka menggunakan pancaindera dengan penuh batasan. Kita pula menggunakannya dengan melampaui batas.

Nikmat mereka gunakan untuk makrufat. Kita pula bertujuan maksiat.

Kekurangan yang mereka alami merendahkan hati mereka pada Ilahi. Kelebihan yang kita rasai pula sentiasa meninggikan diri yang hina ini.

Mereka sering tidak lupa untuk memohon keampunan dan pertolongan dari-Nya. Menangis sudah sebati dalam jiwa. Manakala kita tatkala susah ditimpa musibah baru hendak kembali sujud pada-Nya. Menangis sekadar singgah di mata tapi tidak di mengesan di jiwa.

Syukur mereka syukur yang menambahkan ketabahan dalam menempuh rencah-rencah kehidupan. Syukur kita hanya sementara yang terus mehanyutkan kita pada dunia fana yang melupakan.

Inilah kita tatkala senang. Lupa dan alpa. Bila bala menimpa, baru sedar dari lena.


                         
Ini memang bukan kita...
tapi 
kita perlu menjadi sepertinya...
           
"Serta kamu tertawa (mengejek-ejeknya) dan kamu tidak mahu menangis (menyesali kesalahan kamu serta takutkan balasan buruk yang akan menimpa kamu)?" (Surah An-Najm 53:60)
 

1 comment:

Nor Azhar said...

Marilah Kita Menangis!

Teman Maya